(Oleh Asma Nadia)
Menjelang pemilu mulai banyak yang menyebarkan ide untuk menjadi golput atau secara terbuka menyatakan diri akan golput. Golput atau golongan putih dikenal sebagai sebutan untuk warga negara yang sengaja menolak memilih dalam pemilu, sekalipun mempunyai hak pilih.
Ada yang menggelitik saya ketika mendengar lagi kata golput terutama mengacu pada singkatannya. Jika mereka yang menolak menggunakan hak pilih dalam pemilihan umum disebut golongan putih, apakah berarti mereka yang me - milih dalam pemilihan umum kemudian menjadi golongan hitam? Bukankah putih sering dianggap sebagai kebalikan hitam? Bukankah putih selalu identik dengan kesucian, kebaikan, dan kebenaran? Lalu mengapa yang tidak memilih malah dianggap kelompok putih? Kalau mau tetap menggunakan warna, menurut saya, putih bukan warna yang tepat.
Saya pribadi selalu berusaha untuk memilih dalam pemilihan umum yang merupakan bentuk partisipasi minimal bagi warga negara dalam perubahan negeri. Jika setiap pemilih disebut sebagai golongan hitam, saya keberatan. Kadang terpikir, mengapa tidak kita sebut saja mereka yang tidak memilih dengan golongan hitam? Beri singkatan baru, golhit atau goltam. Tapi kalau kategori warna tidak cocok, ada beberapa usulan.
Pertama golmal atau golas kepen- dekan dari golongan malas karena orang yang memilih untuk tidak memilih dalam pemilu sebenarnya malas. Bukan malas datang ke tempat pemilihan umum (TPU), tapi malas untuk melu- angkan waktu mencari tahu siapa di antara semua kandidat yang ada yang bisa benar-benar atau lebih baik dalam memperjuangkan aspirasi rakyat. Mereka mengambil langkah mudah menyamaratakan semua kandidat tak layak.
Saya percaya masih ada politisi yang baik, yang masuk ke politik untuk berjuang bukan memperkaya diri dan ego. Untuk mengetahui mana yang baik mana yang busuk, kita harus mencari tahu, pelajari, bukannya malas mencari tahu dan memilih abstain. Atau bisa juga mereka kita sebut golpra alias golongan prasangka. Sengaja tidak memilih sebab beranggapan atau memukul rata semua politisi adalah busuk. Prasangka atau sikap menghakimi yang dikombinasikan dengan malas tentu saja merupakan komposisi yang buruk.
Bagaimana dengan sebutan golau? Golongan galau. Mereka tidak suka politisi dan perkembangan politik, tetapi memutuskan tidak memiliki andil untuk memperbaikinya. Hanya bisa sumpah serapah, mengeluh resah, tapi tidak bersedia terlibat bahkan sekadar memilih. Saya bukan tidak menyadari, situasi politik saat ini yang semrawut dan penuh kebusukan.Namun, selamanya tidak akan terjadi perubahan ke arah kebaikan jika kita memutuskan tidak melakukan apa-apa. Bangsa ini perlu solusi untuk memperbaikinya dan solusinya tentu saja bukan berlari atau menghilang seperti pengecut.
Salah satu solusinya, orang baik harus masuk politik. Kalaupun tidak mau, maka orang baik harus memilih orang baik lain yang mau berkorban masuk ke dalam politik. Yang membuat saya terusik adalah sebagian besar mereka yang dengan kesadaran memutuskan tidak memilih justru para intelektual, orang cerdas yang berpendirian dan berpihak pada kebenaran serta pro perubahan.
Apa jadinya jika warga negara berkualitas memilih tidak berperan dalam pemilu? Indonesia tercinta justru akan kehilangan banyak suara orang yang peduli dan berilmu. Mereka yang peduli harus bersatu hingga suara pro kebaikan lebih banyak, mengalahkan suara mereka yang plin plan, pemilih baru yang lugu, atau pemilih yang asal-asalan yang bisa dibayar.
Jika tidak, pemilu hanya menghasilkan kandidat abal-abal: tidak berkualitas, sibuk memperkaya diri, dan ujung-ujungnya tersangkut korupsi atau pasif dan keberadaannya tidak memberikan angin positif bagi negeri.
Satu hal, sekalipun golongan yang tidak memilih banyak jumlahnya, pemilu tetap berjalan dan hasilnya tetap sah. Jadi kalau kandidat abal-abal tadi yang terpilih, masyarakat yang tidak memilih jelas ikut bertanggung jawab. Mumpung masih ada waktu, mari luangkan untuk mencari kandidat terbaik yang ada. Jangan sia-siakan kesempatan hanya karena prasangka, malas, dan galau. Jangan jadikan diri golongan hitam, golongan malas, golongan prasangka atau golongan galau. Pun jika akhirnya memutuskan tidak memilih, jangan lupa tetap mendaftar dan mengisi data agar nama sendiri tidak dimanipulasi atau dipakai untuk kepentingan politik busuk.
Beberapa hari terakhir di sosial media, banyak orang secara hampir bersamaan mengganti foto avatar mereka dengan ikon 4 jari berlatar kuning. saya juga ketika pertama kali mendapat pesan tentang ikon ini bingung apa maksud 4 jari itu?
4 jari itu menunjukkan salah satu wilayah di Mesir yang menjadi pusat pembantaian yaitu Rabi'ah.
mengapa 4 jari? Kita sebaiknya tahu asal-usulnya daripada hanya ikut-ikutan..

1. Mereka yang menggulingkan pemerintah sah di Mesir & telah mengabaikan suara rakyat, kini mulai membantai rakyat mereka sendiri.
2. Ribuan warga Mesir berjalan menuju syahid berhadapan dengan tank para pelaku kudeta militer.
3. Anda dapat melihat di layar tv secara live, seorang rakyat Mesir berdiri di depan tank, tanpa ada batu di tangannya. Tapi dia tetap ditembak.
4. Tidak ada yang membantu pemerintah Mesir saat Mursi berkuasa selama setahun. Baik Barat mahupun negara Teluk Arab.
5. Kini. $16 billion bantuan dikirim segera oleh negara-negara Teluk Arab bagi pemerintah kudeta. Kenapa semunafik itu?
6. Mereka (negara-negara Teluk Arab) yang mengirim bantuan $ 16 billion kepada pemerintah kudeta di Mesir adalah sekutu kudeta.
7. Jumlah para syuhada yang dibantai kelmarin & hari ini (di Ramses Square) sudah 600 jiwa. Mereka menembak di tempat ibadah selama berminggu-minggu.
8. Mereka membunuh 53 saudara Mesir kami saat mereka melakukan solat subuh. Muslim apakah ini?
9. Mereka tanpa belas kasihan membunuh anak-anak, perempuan, dan membakar Rumah Sakit.
10. Saya mengutuk semua serangan (tentara) terhadap masjid dan gereja.
11. Muslim Brotherhood is protecting churches. But those "well-known Gezi media" (Western media) say 30 churches were burned.
12. They also burned our mosques in Syria and Egypt. Bashar or Sisi, they have no difference.
13. Kekejaman di Mesir mungkin juga dilakukan di negara lain, mungkin "mereka" inginkan kekacauan di Turki juga.
14. Sebab mereka tak ingin Turki digdaya di kawasan ini. Saudara-saudaraku, kita akan gagalkan semua rencana itu dengan kesabaran.
15. Mari do'akan Syria & Mesir. 100000 rakyat Syria juga telah dibunuh kejam pemerintah diktator mereka.
Ramadhan sebentar lagi selesai, dengan kata lain ini sudah masuk 10 hari terakhir.. hari-hari terakhir untuk mengumpulkan pundi-pundi amal yang berlimpah bagi yang bisa melihatnya. Semoga orang-orang beruntung itu termasuk kita. aamiin.. Tapi, sayang sekali, miris.. Ramadhan yang seharusnya penuh kesejukan dan kekhusyukan malah banjir dengan siaran televisi yang menurut saya menghilangkan “feel”nya Ramadhan.
Mengajak orang tertawa, apa salah?
Di Indonesia (mungkin di rumah saya contohnya) kalau menunggu saat berbuka dan sahur itu biasanya menonton televisi, untuk menemani kegiatan ngumpul-ngumpul keluarga dan juga sebagai hiburan. Tapi sayang, sebagian besar tayangan TV dimomen itu cuma hiburan dengan tujuan “yang penting penonton bisa ketawa” tanpa ada hikmah yang bisa diambil, mudharatnya malah banyak.
Bagus memang membuat orang ketawa dan bahagia, tapi yang dipermasalahkan adalah cara mereka membuat orang ketawa, cara yang tidak baik tentu membawa pada yang tidak baik pula.
Apakah dengan mengolok-olok orang lain itu bagus?
Apakah dengan mengumbar aib orang lain itu keren?
Ditambah kontak fisik yang kadang menyakiti.. apa itu lucu?
Lucu yang menganggap itu lucu.
Mungkin kita sudah tahu tayangan sejenis itu, dan kadang juga sempat terlena menikmatinya. Mungkin ini beberapa cuplikan lelucon yang pernah saya dengar..
“Heh lu, gigi lu kayak landasan pesawat terbang..”
“pak saya duduk di bawah.. tapi kasih saya makan ya pak.. (sambil menirukan gaya orang cacat minta2)”
Miris kan, bagaimana bisa orang cacat dijadikan olok-olokkan, mereka seperti itu juga bukan kemauan mereka. Mengolok-olok apa yang ada pada diri manusia juga berarti mengolok-olok Penciptanya.
"Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim."
(QS Al Hujurat [49] :11)
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman...”
Terkait dengan bercanda.. apakah dalam Islam tidak boleh? Tentu boleh, di saat-saat tertentu kita butuh senda gurau. Rasulullah pun sesungguhnya orang yang humoris. Bercanda nya pun dengan bercandaan yang cerdas.
Abu Hurairah ra pun menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad. Sanadnya Shahih)
Adapun contoh bercanda ala Rasulullah adalah ketika Seseorang sahabat mendatangi Rasulullah SAw, dan dia meminta agar Rasulullah SAW membantunya mencari unta untuk memindahkan barang-barangnya. Rasulullah berkata: “Kalau begitu kamu pindahkan barang-barangmu itu ke anak unta di seberang sana”. Sahabat bingung bagaimana mungkin seekor anak unta dapat memikul beban yang berat. “Ya Rasulullah, apakah tidak ada unta dewasa yang sekiranya sanggup memikul barang-barang ku ini?” Rasulullah menjawab, “Aku tidak bilang anak unta itu masih kecil, yang jelas dia adalah anak unta. Tidak mungkin seekor anak unta lahir dari ibu selain unta” Sahabat tersenyum dan dia-pun mengerti canda Rasulullah. (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi. Sanad sahih)
Kemudian pernah seorang perempuan tua bertanya pada Rasulullah: “Ya Utusan Allah, apakah perempuan tua seperti aku layak masuk surga?” Rasulullah menjawab: “Ya Ummi, sesungguhnya di surga tidak ada perempuan tua”. Perempuan itu menangis mengingat nasibnya Kemudian Rasulullah mengutip salah satu firman Allah di surat Al Waaqi’ah ayat 35-37 “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya”. (Riwayat At Tirmidzi, hadits hasan)
Mencampuradukkan yang benar dan yang salah dengan gaya pembenaran
Ada juga tayangan drama yang mencampuradukkan antara yang benar dan yang salah, (maaf) misalnya nih di pesantren, ada cowok didandani jadi cewek (plus jilbab), kemudian pegangan tangan dengan santriwati lainnya yang juga tahu kalau itu cowok. Dengan sedikit bumbu-bumbu Islami dan dikasih toppingnya gaya pacaran anak muda. Maaf nih, saya lebih menghormati kalau produsernya sekalian membuat drama anak muda saja, jangan dicampur aduk, mentang-mentang memanfaatkan bulan Ramadhan. -_- maaf agak emosi nulisnya. Dan habis nonton scene itu saya langsung pindah channel, gak tau apa yang terjadi berikutnya.
Kita mungkin sudah pernah menonton salah satu diantaranya, saya tidak menghakimi label, channel, ataupun artis yang merasa terlibat di dalamnya. Yang saya soroti cuma sikap kita dalam menyikapinya. Karena apabila kita melihat suatu kemunkaran, ada tiga pilihan kita sebagai orang yang beriman, mengingkarinya dengan tangan (perbuatan, atau kekuasaan), mengingkarinya dengan kata-kata, atau mengingkarinya dengan hati (dan ini selemah-lemahnya iman). Saya hanya mencoba mengingkarinya dengan tulisan (semoga aja bisa hampir mendekati “kata-kata”) heheh.. setidaknya naik satu tingkat daripada cuma dalam hati.
Sekian.
Wallahu a'lam bishawab.
:)
Ukhti...
Besarnya kerudungmu tidak menjamin sama dengan besarnya semangat jihadmu menuju
ridho Tuhanmu, mungkinkah besarnya kerudungmu hanya digunakan sebagai fashion
atau gaya jaman sekarang, atau mungkin kerudung besarmu hanya di jadikan alat
perangkap busuk supaya mendapatkan ikhwan yang diidamkan.., bahkan bisa jadi
kerudung besarmu hanya akan dijadikan sebagai identitasmu saja, supaya bisa
mendapat gelar akhwat dan dikagumi oleh banyak ikhwan.
Ukhti....
Tertutupnya tubuhmu tidak menjamin bisa menutupi aib saudaramu, keluargamu
bahkan diri antum sendiri, coba perhatikan sekejap saja, apakah aib saudaramu,
teman dekatmu bahkan keluargamu sendiri sudah tertutupi, bukankah kebiasaan
buruk seorang perempuan selalu terulang dengan tanpa disadari melalui
ocehan-ocehan kecil sudah membekas semua aib keluargamu, aib sudaramu, bahkan
aib teman dekatmu melalui lisan manismu.
Ukhti....
Lembutnya suaramu mungkin selembut sutra bahkan lebih daripada itu, tapi
akankah kelembutan suara antum sama dengan lembutnya kasihmu pada saudaramu,
pada anak-anak jalanan, pada fakir miskin dan pada semua orang yang
menginginkan kelembutan dan kasih sayangmu.
Ukhti....
Lembutnya parasmu tak menjamin selembut hatimu, akankah hatimu selembut salju
yang mudah meleleh dan mudah terketuk ketika melihat segerombolan anak-anak
palestina terlihat gigih berjuang dengan berani menaruhkan jiwa dan raga bahkan
nyawa sekalipun dengan tetes darah terakhir, akankah selembut itu hatimu
ataukah sebaliknya hatimu sekeras batu yang ogah dan cuek melihat ketertindasan
orang lain.
Ukhti...
Rajinnya tilawahmu tak menjamin serajin dengan shalat malammu, mungkinkah
malam-malammu dilewati dengan rasa rindu menuju Tuhanmu dengan bangun ditengah
malam dan ditemani dengan butiran-butiran air mata yang jatuh ke tempat sujud
mu serta lantunan tilawah yang tak henti-hentinya berucap membuat setan
terbirit-birit lari ketakutan, atau sebaliknya, malammu selalu diselimuti
dengan tebalnya selimut setan dan di nina-bobokan dengan mimpi-mimpi jorokmu
bahkan lupa kapan bangun shalat subuh.
Ukhti....
Cerdasnya dirimu tak menjamin bisa mencerdaskan sesama saudaramu dan
keluargamu, mungkinkah temanmu bisa ikut bergembira menikmati ilmu-ilmunya
seperti yang antum dapatkan, ataukah antum tidak peduli sama sekali akan
kecerdasan temanmu, saudaramu bahkan keluargamu, sehingga membiarkannya begitu
saja sampai mereka jatuh ke dalam lubang yang sangat mengerikan yaitu
maksiat....!!!
Ukhti....
Cantiknya wajahmu tidak menjamin kecantikan hatimu terhadap saudaramu, temanmu
bahkan diri antum sendiri, pernahkah antum menyadari bahwa kecantikan yang antum punya hanya titipan ketika muda, apakah setelah tujuh puluh tahun kedepan antum masih terlihat cantik, jangan-jangan kecantikanmu hanya dijadikan perangkap jahat supaya bisa menaklukan hati ikhwan dengan senyuman-senyuman busukmu.
Ukhti....
Tundukan pandanganmu yang jatuh ke bumi tidak menjamin sama dengan tundukan
semangatmu untuk berani menundukkan musuh-musuhmu, terlalu banyak musuh yang
akan antum hadapi mulai dari musuh-musuh islam sampai musuh hawa nafsu
pribadimu yang selalu haus dan lapar terhadap perbuatan jahatmu.
Ukhti....
Tajamnya tatapanmu yang menusuk hati, menggoda jiwa tidak menjamin sama dengan
tajamnya kepekaan dirimu terhadap warga sesamamu yang tertindas di Palestina,
pernahkah antum menangis ketika mujahid-mujahidah kevil tertembak mati, atau
dengan cuek bebek membiarkan begitu saja, pernahkah antum merasakan bagaimana
rasanya berjihad yang dilakukan oleh para mujahid-mujahidah teladan.
Ukhti....
Lirikan matamu yang menggetarkan jiwa tidak menjamin dapat menggetarkan hati
saudaramu yang senang bermaksiat, coba antum perhatikan dunia sekelilingmu
masih banyak teman,saudara bahkan keluarga antum sendiri belum merasakan
manisnya islam dan iman mereka belum merasakan apa yang antum rasakan, bisa
jadi salah satu dari keluargamu masih gemar bermaksiat, berpakaian seksi dan
berperilaku binatang yang tak karuan, sanggupkah antum menggetarkan hati-hati
mereka supaya mereka bisa merasakan sama apa yang kamu rasakan yaitu betapa
lezatnya hidup dalam kemuliaan islam.
Ukhti....
Tebalnya kerudungmu tidak menjamin setebal imanmu pada sang Kholikmu, antum
adalah salah satu sasaran setan durjana yang selalu mengintai dari semua
penjuru mulai dari depan belakang atas bawah semua setan mengintaimu, imanmu
dalam bahaya, hatimu dalam ancaman, tidak akan lama lagi imanmu akan
terobrak-abrik oleh tipuan setan jika imanmu tidak betul-betul dijaga olehmu,
banyak cara yang harus antum lakukan mulai dari diri sendiri, dari yang paling
kecil dan seharusnya di lakukan sejak dari sekarang, kapan lagi coba....??!!
Ukhti....
Putihnya kulitmu tidak menjamin seputih hatimu terhadap saudaramu, temanmu
bahkan keluargamu sendiri, masihkah hatimu terpelihara dari berbagai penyakit
yang merugikan seperti riya dan sombong, pernahkah antum membanggakan diri
ketika kesuksesan dakwah telah diraih dan merasa diri paling waaah, merasa diri
paling aktif, bahkan merasa diri paling cerdas diatas rata-rata akhwat yang
lain, sesombong itukah hatimu, lalu dimanakah beningnya hatimu, dan putihnya
cintamu.
Ukhti....
Rajinnya ngajimu tidak menjamin serajin infaqmu ke mesjid atau mushola,
sadarkah antum kalo kotak-kotak nongkrong di masjid masih terlihat kosong dan
mengkhawatirkan, tidakkah antum memikirkan infaq sedikit saja, bahkan kalaupun
infaq, kenapa uang yang paling kecil dan paling lusuh yang antum masukan,
maukah antum diberi rizqi sepelit itu.
Ukhti....
Rutinnya halaqahmu tidak menjamin serutin puasa sunah senin-kamis yang antum
laksanakan, kejujuran hati tidak bisa dibohongi, kadang semangat fisik begitu
bergelora untuk dilaksankan tapi, semangat ruhani tanpa disadari turun drastis,
puasa yaumul bith pun terlupakan apalagi puasa senin-kamis yang dirasakan
terlalu sering dalam seminggu, separah itukah hati antum, makanan fisik yang
antum pikirkan dan ternyata ruhiyah pun butuh stok makanan, kita tidak pernah
memikirkan bagaimana akibatnya kalau ruhiyah kurang gizi.
Ukhti....
Manisnya senyummu tak menjamin semanis rasa kasihmu terhadap sesamamu, kadang
sikap ketusmu terlalu banyak mengecewakan orang sepanjang jalan yang antum
lewati, sikap ramahmu pada orang antum temui sangat jarang terlihat, bahkan
selalu dan selalu terlihat cuek dan menyebalkan, kalau itu kenyataanya
bagaimana orang lain akan simpati terhadap komunitas dakwah yang memerlukan
banyak kader, ingat!!! Dakwah tidak memerlukan antum tapi... antumlah yang
memerlukan dakwah, kita semua memerlukan dakwah.
Ukhti....
Rajinnya shalat malammu tidak menjamin keistiqomahan seperti Rasulullah SAW
sebagai panutanmu.
Ukhti....
Ramahnya sikapmu tidak menjamin seramah sikapmu terhadap sang Kholikmu,
masihkah antum senang bermanjaan dengan Tuhanmu dengan shalat dhuhamu, shalat
malammu?
Ukhti....
Dirimu bagaikan kuntum bunga yang mulai merekah dan mewangi, akankah nama
harummu disia-siakan begitu saja dan atau sanggupkah antum ketika sang mujahid
akan segara menghampirimu.
Ukhti....
Masih ingatkah antum terhadap pepatah yang masih terngiang sampai saat ini
bahwa akhwat yang baik hanya untuk ikhwan yang baik, jadi siap-siaplah sang
syuhada akan menjemputmu dipelaminan hijaumu.
Ukhti....
Baik buruk parasmu bukanlah satu-satunya jaminan akan sukses masuk dalam surga
Rabbmu. Maka, tidak usah berbangga diri dengan parasmu yang molek, tapi
berbanggalah
ketika iman dan taqwamu sudah betul-betul terasa dan terbukti dalam hidup
sehari-harimu.
Ukhti....
Muhasabah yang antum lakukan masihkah terlihat rutin dengan menghitung-hitung
kejelekan dan kebusukan kelakuan antum yang dilakukan siang hari, atau bahkan
kata muhasabah itu sudah tidak terlintas lagi dalam hatimu, sungguh lupa dan
sirna tidak ingat sedikitpun apa yang harus dilakukan sebelum tidur, antum
tidur mendengkur begitu saja dan tidak pernah kenal apa itu muhasabah sampai
kapan akhlak busuk mu dilupakan, kenapa muhasabah tidak di jadikan sebagai
moment untuk perbaikan diri bukankah akhwat baik yang hanya akan mendapatkan
ikhwah yang baik.
Ukhti....
Pernahkah antum bercita-cita ingin mendapatkan suami ikhwan yang ideal, wajah
yang manis, badan yang kekar, dengan langkah tegap dan pasti, bukankah apa yang
antum pikirkan sama dengan yang ikhwan pikirkan yaitu ingin mencari istri yang
solehah dan seorang mujahidah, kenapa tidak dari sekarang antum mempersiapkan
diri menjadi seorang mujahidah yang solehah.
Ukhti....
Apakah kebiasaan buruk wanita lain masih ada dan hinggap dalam diri antum,
seperti bersikap pemalas dan tak punya tujuan atau lama-lama nonton tv yang
tidak karuan dan hanya akan mengeraskan hati sampai lupa waktu, lupa bantu
orang tua, kapan akan menjadi anak yang biruwalidain, kalau memang itu terjadi,
jadi sampai kapan, mulai kapan antum akan mendapat gelar mujahidah atau akhwat
solehah.
Ukhti....
Apakah pandanganmu sudah terpelihara, atau pura-pura nunduk ketika melihat
seorang ikhwan dan terlepas dari itu matamu kembali jelalatan layaknya mata
harimau mencari mangsa, atau tundukan pandanganmu hanya menjadi alasan belaka
karena merasa berkerudung besar.
Ukhti....
Hatimu di jendela dunia, dirimu menjadi pusat perhatian semua orang, sanggupkah
antum menjaga izzah yang antum punya, atau sebaliknya antum bersikap acuh tak
acuh terhadap penilaian orang lain dan hal itu akan merusak citra akhwat yang
lain, kadang orang lain akan mempunyai persepsi disamaratakan antara akhwat
yang satu dengan akhwat yang lain, jadi kalo antum sendiri membuat kebobrokan
akhlak maka akan merusak citra akhwat yang lain.
Ukhti....
Dirimu menjadi dambaan semua orang, karena yakinlah preman sekalipun, bahkan
brandal sekalipun tidak menginginkan istri yang akhlaknya bobrok tapi semua
orang menginginkan istri yang solehah, siapkah antum sekarang menjadi istri
solehah yang selalu di damba-dambakan oleh semua orang.
reblog dari seorang teman yang selalu mengingatkan...
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian
itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]
SEJARAH VALENTINE'S DAY







- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact