:: :: :: ::
Siang terik..
Bau asap..
Lampu jalan masih merah, kendaraan masih terhenti dan bersusun rapi dalam barisan panjang. Memang ini yang aku cari, ketika lalu lintas berhenti saat itulah aku bisa leluasa menyeberangi jalan. Jalan raya yang mendidih diterjang panas siang ini. Lolos dalam menyeberang jalan bergegas aku menapaki jalan kecil menurun menuju sebuah masjid di tepi jalan tadi. Jam di hape-ku sudah menunjuk pukul 1, waktu Zuhur pasti sudah masuk, dan sepertinya tidak bakal sempat aku untuk shalat dirumah , karena masih ada janji untuk bertemu dengan teman lama di sebuah tempat dekat masjid.
Masjid ini cukup besar, sering dipakai dalam berbagai kegiatan taklim mingguan. Posisi jalan raya yang lebih tinggi dari badan masjid membuat gerbang masjid berada di sisi jalan kecil yang satunya. Aku melangkah menuju pintu depan masjid, terkunci. Putar arah ke pintu samping sebelah akhwat, terkunci juga. Oh, mungkin karena habis shalat Jumat tadi, jadi Cuma pintu bagian ikhwan yang dibuka pikirku.
“dikunci dik pintunya.” Kata seorang bapak yang sedari tadi duduk di teras
“mungkin dari sebelah sana bisa..” dia menunjuk pintu yang sedang aku pikirkan.
Bergegas aku ke sana. Aku juga melewati seorang ibu paruh baya, ia sepertinya sedang menunggu sesuatu, tapi aku acuh saja.
Di dalam masjid masih ada bapak-bapak yang terlihat seperti sesepuh masjid bercengkerama serius sekali, aku jadi sedikit kikuk karena aku perempuan sendiri yang tiba-tiba masuk ke dalam masjid.
Selesai shalat, aku menyadari ternyata ada dua orang perempuan yang juga shalat, termasuk ibu paruh baya yang kulihat tadi. Setelah mengembalikan mukenah, aku duduk kembali, sembari meng-adem-kan diri sambil menunggu sampai pukul setengah dua. Tiba-tiba, aku tersentak ketika melihat ibu paruh baya tadi yang sedang shalat, bukan karena gerakannya tapi karena mukenah yang dipakainya yang maaf sudah las dan koyak sehingga berlubang di bagian pundaknya. Aku mengingat pakaian ibu ini tadi memang sangat sederhana, namun bukan itu intinya. Aku terharu pada ibu ini, ditengah kondisinya, ia tidak lupa menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba dan meninggalkan segala urusannya diluar sana.. Tapi, dimanakah mereka para tuan berdasi, apakah semakin sibuk mencari kehidupan, sehingga kelelahan dan lupa…
Sampai ia selesai shalat aku masih memperhatikannya, ia menyadarinya dan tersenyum ramah. Aku pun balas tersenyum, kemuadian ia duduk tepat di sebelahku sambil melipat mukenahnya. Aku tutup buku yang tadinya mau kubaca. Ia memulai percakapan,
“Sudah shalatnya mbak?” tanyanya dengan logat jawa yang kental
“Iya, sudah bu” kujawab cukup singkat.
“Saya disini habis keliling jualan ini..” ia mengeluarkan sesuatu seperti barang elektronik dari
dalam bungkusan yang ia bawa.
“Yah nambah2 uang lah mbak.” Aku mengerti maksud ibu ini, mungkin saja aku berminat membeli barang yang ia tawarkan. Tapi aku tidak sdang membutuhkan barang itu. Aku hanya melihat sedikit barang yang dibawanya untuk melegakan hatinya.
“Rumahnya deket sini bu?” aku balik nanya.
“oh, ndak. Rumah saya jauh.. saya dari Jogja..”
“oh, jauhnya bu.. “
“iya mbak, namanya juga nyari kehidupan”
“kesini bareng keluarga ya?”
“iya. Itu anak2 saya diluar…” ia sedikit memutus kata-katanya.
“semuanya tiga orang, laki-laki semua.. “
aku sedikit melihat las an luar, memang terlihat ada beberapa orang yang sedang duduk.
“..dan anak saya itu ..idiot.. ketiga-tiganya seperti itu..”
Ya Allah.. aku Cuma bisa terkejut mendengar perkataannya. Terbayang bagaimana perjalanan ibu ini..
“yang sabar ya bu.. anak itu juga titipan Allah.”
Terlihat memang guratan lelah di wajahnya, namun demi kehidupan, tak ada las an
baginya untuk berputus asa.
“ia.. bapaknya juga seperti itu…?
Suami saya buta, kena musibah gempa yang tempo hari itu..”
Aku bisa melihat matanya tampak berkaca-kaca. Namun ia masih bisa menguasainya.
“yang sabar ya bu . . . .”
Sebenarnya aku juga tidak tahu mau berkata apa lagi, Cuma kata-kata itu yang bisa keluar.. Ibu
itu pun sudah selesai melipat mukenahnya dan sudah memasukkan kembali barang bawaannya.
“ia, terimakasih mbak. Saya duluan ya, mau keluar..”
“oh ia, silahkan bu”..
Aku masih mencerna cerita ibu tadi, betapa tegarnya dia.. Aku juga masih bertanya-tanya kenapa ia bisa menceritakan kejadian yang ia alami kepada orang yang baru saja dikenalnya. Namun apa pun alasanya, ia pasti sosok ibu yang tak mudah putus asa atas cobaan yang dihadapinya.
Ketika aku keluar dari masjid, aku berpapasan dengan ibu tadi yang masih duduk di teras, ia bersama tiga orang anak laki-lakinya, seperti yang ia ceritakan tadi. Anaknya yang satu tampak sudah dewasa, tapi ia hanya menatap kedepan dengan pandangan kosong, dan menggerakkan kepalanya sedikit tidak terkendali. Terbayang olehku betapa ia begitu sabar mengurusi ketiga anaknya, menjaga suaminya yang harus dituntun kemana pun ia pergi, menjadi tulang punggung keluarga, memberikan semangat hidup pada keluarganya sedangkan ia sendiri juga membutuhkan itu.. Subhanallah.. Semoga Allah SWT memberkahi keluarga itu dan meridhoi setiap langkah mereka…
Jadikanlah ini pelajaran berharga bagi kami untuk senantiasa bersyukur dan berpikir positif atas semua kehendak-Nya, seperti ibu tadi yang yakin akan kekuasaan Allah, dan yakin bahwa rezeki itu sudah diatur oleh-Nya, tak perlu takut tidak kebagian.. Sehingga ia bisa begitu tenang beribadah..
Sedikit mengutip kata-kata Mario Teguh dalam nasihatnya, bahwa bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari seekor ikan yang ada di kolam ikan. Ia senantiasa mendapat jatah makanan dari tuannya setiap hari, selalu diperhatikan kadar airnya dan kebersihannya kolamnya. Ia tak perlu mengkhawatirkan kekurangan makanan, karena ada yang akan memeliharanya. Seperti juga manusia sudah pasti ada yang memeliharanya, yakni Yang Maha Pemelihara, hanya saja cara pemeliharaannya itu yang berbeda-beda. Orang yang tidak mengerti akan cara pemeliharaan itu yang akan membuat hidupnya jadi tidak terpelihara.
31.12.2010


0 komentar:
Posting Komentar