Soalnya yang mati sebenarnya bukan cuma lampu..
Dirumah kena pemadaman bergilir lagi, tapi kali ini lumayan lama -_-
Kalau gelap gini, jadi inget waktu masih kecil dulu, kalau mati listrik berarti waktunya untuk dongeng :)
Suka diceritain tentang kancil, pak pandir, burung pungguk, yah semacam fabel, kadang juga legenda rakyat ..
Kangen dengan suasana itu..
Ditemani lilin kadang juga lampu minyak, kami kakak beradik duduk manis di lantai dengan seksama dengerin cerita.
Penerangannya remang-remang, sampai-sampai muka orang yang disebelah gak keliatan jelas, untung gak ada yang nambah pas lampu hidup. Heheh
Karena cuma sebatas cerita, kami pun bebas memvisualisasikan nya dalam imajinasi masing-masing..
Salah satu yang masih saya ingat sampai sekarang adalah kisah tentang “Seorang Anak yang Polos” (lupa judul aslinya) :p
Kita namai saja anak ini dengan Bedul
Ini ceritanya lucu
Alkisah ada seorang anak laki laki yang lugu + polos, tapi penurut. Hampir setiap hari Ia berkunjung ke rumah bibi nya untuk sekedar main.
Karena rumah bibinya tidak terlalu jauh, ia tempuh dengan berjalan kaki.
Suatu hari sepulang dari berkunjung ia diberi oleh-oleh berupa susu murni dalam sebuah kendi, karena berat & tidak tahu bagaimana cara membawanya, Bedul menarik kendi tersebut diatas tanah, jadilah susu itu tumpah-tumpah karena jalanan yang berbatu.
Sampai dirumah Ibunya jelas marah, tapi karena anaknya bilang tidak tau cara membawanya, kemudian ibunya cuma berpesan
“Bedul, lain kali kalo dikasih lagi oleh bibi dibawa sambil dipikul di atas kepala“..
Keesokan harinya benar, Bedul diberi oleh2 lagi, tapi kali ini bukan susu melainkan mentega.. Karena ingat pesan ibunya, Ia bawalah mentega itu diatas kepala.
Cuaca siang itu sangat terik, alhasil mentega itu pun meleleh tak bersisa ketika bedul sampai rumah.
Dirumah, ibunya cuma bisa menghela nafas dan berpesan lagi
“Dul, lain kali kalo dikasih lagi, disimpan dalam air saja, supaya tidak meleleh.. “
Hari berikutnya bedul juga diberi oleh-oleh lagi.. Dan kali ini.. Oleh-oleh nya bukan makanan, tapi kucing cantik untuk peliharaan bedul dirumah.
Seketika, bedul ingat pesan Ibunya yaitu “simpan dalam air!..” -.-
Karena Bedul ini penurut, Bedul langsung mengambil waskom dan menyelupkan kucing itu dalam air sambil membawanya pulang.
Sampai dirumah wajah dan tangan bedul sudah penuh dengan cakaran kucing dan kucingnya lari entah kemana..
Ibunya kembali mengelus dada,
“Aduh Dul, kamu ini gimana, kalo dikasih yang begituan ya diiket aja, terus kamu ajak jalan bawa pulang..”
Bedul cuma ngangguk2 kayak mainan anak anjing yang di mobil2 itu :p
Eh bener, besoknya bedul dikasih oleh-oleh lagi (ini bibi nya baik banget ya..)
Dan kali ini dia dikasih makanan, yaitu tahu mentah untuk diolah..
Bisa nebak hasil akhirnya?
Tahu itu belepotan di jalanan karena diikat dan diseret oleh Bedul..
Duuh bedul, bedul...
Akhirnya sang ibu frustasi, dan tidak membolehkan bedul untuk berkunjung lagi kerumah bibinya. Bedul pun tinggal bersama ibunya dan hidup bahagia selamanya..
-The end-
Hehe. Akhir kisahnya rada maksa.
But over all, hikmah dari kisah ini adalah kita memang dituntut untuk tau peraturan dan patuh. Tapi tidak juga dimakan mentah-mentah, lihat dulu situasi dan maksud dari tujuan itu biar gak salah aplikasi.. Dan ingat malu bertanya sesat di jalan.
Kalaupun ada saat-saat dimana mengharuskan kita untuk ‘sekedar’ taat ya kita lihat keputusannya berasal dari siapa, dan kita harus siap.
Kisah ini udah bertahun-tahun lalu diceritakan, tapi baru sekarang ngertinya..
Thanks for the story dad.. ^^



- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact