Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, MA. M. Phil.(Ketua MIUMI Pusat) :
"Jika anda tdk mau ikut pemilu karena kecewa dengan pemerintah & anggota DPR, atau parpol Islam. Itu hak anda. Tapi ingat jika anda & jutaan yg lain tidak ikut pemilu maka jutaan orang fasik, sekuler, liberal, atheis akan ikut pemilu untuk berkuasa dan menguasai kita. Niatlah berbuat baik meskipun hasilnya belum tentu sebaik yang engkau inginkan.
Ali bin Abi Thalib
"Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. TAPI karena DIAMNYA ORANG BAIK"
Wallahu a'lam bishawab
(Oleh Asma Nadia)
Menjelang pemilu mulai banyak yang menyebarkan ide untuk menjadi golput atau secara terbuka menyatakan diri akan golput. Golput atau golongan putih dikenal sebagai sebutan untuk warga negara yang sengaja menolak memilih dalam pemilu, sekalipun mempunyai hak pilih.
Ada yang menggelitik saya ketika mendengar lagi kata golput terutama mengacu pada singkatannya. Jika mereka yang menolak menggunakan hak pilih dalam pemilihan umum disebut golongan putih, apakah berarti mereka yang me - milih dalam pemilihan umum kemudian menjadi golongan hitam? Bukankah putih sering dianggap sebagai kebalikan hitam? Bukankah putih selalu identik dengan kesucian, kebaikan, dan kebenaran? Lalu mengapa yang tidak memilih malah dianggap kelompok putih? Kalau mau tetap menggunakan warna, menurut saya, putih bukan warna yang tepat.
Saya pribadi selalu berusaha untuk memilih dalam pemilihan umum yang merupakan bentuk partisipasi minimal bagi warga negara dalam perubahan negeri. Jika setiap pemilih disebut sebagai golongan hitam, saya keberatan. Kadang terpikir, mengapa tidak kita sebut saja mereka yang tidak memilih dengan golongan hitam? Beri singkatan baru, golhit atau goltam. Tapi kalau kategori warna tidak cocok, ada beberapa usulan.
Pertama golmal atau golas kepen- dekan dari golongan malas karena orang yang memilih untuk tidak memilih dalam pemilu sebenarnya malas. Bukan malas datang ke tempat pemilihan umum (TPU), tapi malas untuk melu- angkan waktu mencari tahu siapa di antara semua kandidat yang ada yang bisa benar-benar atau lebih baik dalam memperjuangkan aspirasi rakyat. Mereka mengambil langkah mudah menyamaratakan semua kandidat tak layak.
Saya percaya masih ada politisi yang baik, yang masuk ke politik untuk berjuang bukan memperkaya diri dan ego. Untuk mengetahui mana yang baik mana yang busuk, kita harus mencari tahu, pelajari, bukannya malas mencari tahu dan memilih abstain. Atau bisa juga mereka kita sebut golpra alias golongan prasangka. Sengaja tidak memilih sebab beranggapan atau memukul rata semua politisi adalah busuk. Prasangka atau sikap menghakimi yang dikombinasikan dengan malas tentu saja merupakan komposisi yang buruk.
Bagaimana dengan sebutan golau? Golongan galau. Mereka tidak suka politisi dan perkembangan politik, tetapi memutuskan tidak memiliki andil untuk memperbaikinya. Hanya bisa sumpah serapah, mengeluh resah, tapi tidak bersedia terlibat bahkan sekadar memilih. Saya bukan tidak menyadari, situasi politik saat ini yang semrawut dan penuh kebusukan.Namun, selamanya tidak akan terjadi perubahan ke arah kebaikan jika kita memutuskan tidak melakukan apa-apa. Bangsa ini perlu solusi untuk memperbaikinya dan solusinya tentu saja bukan berlari atau menghilang seperti pengecut.
Salah satu solusinya, orang baik harus masuk politik. Kalaupun tidak mau, maka orang baik harus memilih orang baik lain yang mau berkorban masuk ke dalam politik. Yang membuat saya terusik adalah sebagian besar mereka yang dengan kesadaran memutuskan tidak memilih justru para intelektual, orang cerdas yang berpendirian dan berpihak pada kebenaran serta pro perubahan.
Apa jadinya jika warga negara berkualitas memilih tidak berperan dalam pemilu? Indonesia tercinta justru akan kehilangan banyak suara orang yang peduli dan berilmu. Mereka yang peduli harus bersatu hingga suara pro kebaikan lebih banyak, mengalahkan suara mereka yang plin plan, pemilih baru yang lugu, atau pemilih yang asal-asalan yang bisa dibayar.
Jika tidak, pemilu hanya menghasilkan kandidat abal-abal: tidak berkualitas, sibuk memperkaya diri, dan ujung-ujungnya tersangkut korupsi atau pasif dan keberadaannya tidak memberikan angin positif bagi negeri.
Satu hal, sekalipun golongan yang tidak memilih banyak jumlahnya, pemilu tetap berjalan dan hasilnya tetap sah. Jadi kalau kandidat abal-abal tadi yang terpilih, masyarakat yang tidak memilih jelas ikut bertanggung jawab. Mumpung masih ada waktu, mari luangkan untuk mencari kandidat terbaik yang ada. Jangan sia-siakan kesempatan hanya karena prasangka, malas, dan galau. Jangan jadikan diri golongan hitam, golongan malas, golongan prasangka atau golongan galau. Pun jika akhirnya memutuskan tidak memilih, jangan lupa tetap mendaftar dan mengisi data agar nama sendiri tidak dimanipulasi atau dipakai untuk kepentingan politik busuk.
Tahu kenapa hujan itu menyenangkan?
Karena turunnya rame2
Pasti garing kalau hujan itu turunnya hanya satu tetes
Lantas satu tetes lagi, dan seterusnya.
Kalian tahu kenapa nasi itu lezat dan mengenyangkan?
Karena dihidangkan rame2
Pasti bengong kalau hanya satu butir saja di atas piring.
Ini mau makan apa?
Kalian tahu gigi itu berguna?
Karena rame2 berbaris rapi
Pasti ompong nyebutnya kalau cuma satu.
Tidak bisa buat mengunyah. Cuma bisa buat tersenyum melihatnya.
Sungguh,
Di dunia ini sesuatu yang positif selalu spesial saat rame2 dilakukan
Shalat jamaah, rame2 tentu lebih afdol
Tilawah rame2 tentu lebih istiqomah
Gotong royong, rame2 tentu lebih oke
Belajar, rame2 saling bantu lebih banyak yang dipelajari
Bekerja, rame2 saling tolong lebih cepat selesai.
Itulah gunanya teman2 terbaik
Teman2 yang saling menasehati dan mengingatkan
Rame2 menjadi selalu lebih seru.
Kalian tahu kenapa keyboard laptop atau HP harus lengkap?
Karena hilang satu saja, rasanya tidak utuh lagi.
Begitulah pertemanan yang baik
Hilang satu, terasa kosong semuanya.
Rame2 selalu lebih menyenangkan.
:))
-repost
Posted via Blogaway
Namun hanya sekedar mengingatkan, sebenarnya perayaan tersebut esensi nya apa dan bagaimana sejarahnya..
Ok simak baik-baik yg satu ini ;)
Sejarah Tahun Baru Masehi
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada
tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah
Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar
Roma, ia memutuskan untuk mengganti
penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad 7 SM. Dalam
mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang
menyarankan agar penanggalan baru itu
dibuat dengan mengikuti revolusi
matahari, sebagaimana yang dilakukan
orang-orang Mesir.
Satu tahun dalam penanggalan baru itu
dihitung sebanyak 365 seperempat hari
dan Caesar menambahkan 67 hari pada
tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga
memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa
menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini.
Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.
Perayaan Tahun Baru
Saat ini, tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci
umat Kristen. Namun kenyataannya,
tahun baru sudah lama menjadi tradisi
sekuler yang menjadikannya sebagai hari
libur umum nasional untuk semua warga
Dunia.
Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik
oleh orang Yahudi yang dihitung sejak
bulan baru pada akhir September.
Selanjutnya menurut kalender Julianus,
tahun Romawi dimulai pada bulan Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia
merayakannya pada tanggal tersebut.
Perayaan Tahun Baru Zaman Dulu
Seperti kita ketahu, tradisi perayaan
tahun baru di beberapa negara terkait
dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka—yang tentu saja
sangat bertentangan dengan Islam.
Contohnya di Brazil. Pada tengah malam
setiap tanggal 1 Januari, orang-orang
Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja—Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara Brazil.
Seperti halnya di Brazil, orang Romawi
kuno pun saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk
merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan.
Menurut sejarah, bulan Januari diambil
dari nama dewa bermuka dua ini (satu
muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang).
Sedangkan menurut kepercayaan orang
Jerman, jika mereka makan sisa hidangan pesta perayaan New Year's Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan kekurangan pangan selama setahun penuh. Bagi orang kristen yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.
Kebanyakan perayaan dilakukan malam
sebelum tahun baru, pada tanggal 31
Desember, di mana orang-orang pergi ke
pesta atau menonton program televisi
dari Times Square di jantung kota New
York, di mana banyak orang berkumpul.
Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan dan orang-orang menerikkan "Selamat Tahun Baru" dan menyanyikan Auld Lang Syne.Di negara-negara lain, termasuk Indonesia? Sama saja
Bagi kita, orang Islam, merayakan tahun
baru Masehi, tentu saja akan semakin
ikut andil dalam menghapus jejak-jejak
sejarah Islam yang hebat. Sementara
beberapa bulan yang lalu, kita semua
sudah melewati tahun baru Muharram,
dengan sepi tanpa gemuruh apapun. (sa/
berbagaisumber)
knp tahun baru Hijriah tdk semeriah
tahun baru Masehi ??
Padahal tahun baru Hijriah merupakan momen yang sangat penting dalam sejarah Islam, yakni dimulainya peristiwa hijrah Rasulullah ke madinah.
Kebanyakan kita hanya ikut-ikutan saja dalam menyikapi berbagai hal. Selain masalah dalam asal-muasal perayaan tahun baru, yang jadi masalah juga konten perayaannya sendiri. Umumnya ya diisi dengan hura-hura, bahkan jadi ajang kumpul2 remaja laki-laki dan perempuan yang bercampur baur...
Semoga Allah SWT melindungi kita dari khilaf dan salah..
Wallahu a'lam bishawab.
http://eramuslim.com/berita/tahukah-
anda/tahun-baru-masehi-sejarah-kelam-
penghapusan-islam.htm





- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact