Melarikan Diri
Kebiasaan sejak masih sekolah dulu
adalah membuat bucket list.
Menjelang kuliah juga sama. Tapi
setelah koas, bucket list tergantikan
dengan requirement list.. wkwk. Kadang
rutinitas koas benar-benar membawa penat. Seringkali berpikir untuk sedikit “melarikan
diri” dari sini..
Hari itu semester baru setelah
Ramadhan, beberapa forum chat online hampir bersamaan menampilkan informasi tentang
pertukaran mahasiswa antar negara, ada sejenis short camp untuk mahasiswa
kesehatan, ada juga tentang pertukaran kebudayaan. Entahlah rasanya ini seperti
jalan yang ditunjukkan untuk melarikan diri.. Dan ternyata dalam bucket list tempo dulu, di no 64 tertulis “Keluar negeri dengan mengikuti
event tingkat nasional / internasional”. Okelah Bismillah demi mencoret list satu ini..
Muslimah bepergian keluar negeri?
Dulu sempat secara serius cari
info tentang pertukaran pelajar. Tapi mentok pada peraturan seleksi yang harus
karantina, atau harus pakai busana tertentu, atau harus menarikan tarian daerah.
Yang sangat “nggak gue banget”.. lebih tepatnya nggak bisa hehe.
Kemudian kendala
selanjutnya adalah masalah mahram saat bepergian jauh, mencari makanan yang
halal, juga interaksi antar non mahram yang menjadi pertimbangan berat.
Soal mahram bagi muslimah saat
bepergian jauh saya pernah baca sebuah ulasan tentang hal ini.
Ada beberapa pendapat memang,
tapi Imam Malik menyatakan bahwa mahram bisa diganti dengan rombongan wanita
yang bisa dipercaya selama perjalanan aman.
“Adapun yang disebut oleh sebagian ulama dari
teman-teman kami, itu dalam keadaan sendiri dan jumlah yang sedikit. Adapun
dalam keadaan jumlah rombongan sangat banyak, sedang jalan – yang dilewati –
adalah jalan umum yang ramai dan aman, maka bagi saya keadaan tersebut seperti
keadaan dalam kota yang banyak pasar-pasarnya dan para pedagang yang berjualan,
maka seperti ini dianggap aman bagi wanita yang bepergian tanpa mahram dan
tanpa teman wanita. “ (al-Muntaqa : 3/17)1
Kemudian karena program yang saya
ikuti ini merupakan Islamic cultural
exchange maka untuk urusan makanan halal, menjaga waktu shalat, dan hal-hal
syariah lain InsyaAllah terjaga. Akhirnya program yang menurut saya cukup
mengcover jalan keluar dari kendala tadi salah satunya adalah IFSEE (Islamic
Fellowship for Student Exchange and Empowerment) (silakan cek sendiri
websitenya jika butuh informasi lebih lanjut2 J). Program kali ini adalah belajar di Tokyo selama
1 minggu.
Proses Seleksinya?
Ada 3 tahap seleksi. Administrasi,
essay, dan video kreatif. Semua prosesnya
dalam bahasa Inggris. Singkat cerita akhirnya tahap demi tahap saya lakukan,
promosi pendaftaran juga saya share ke grup online. Tapi tidak banyak yang tau
kalau saya ikut seleksi, kecuali satu teman baiq ini, yang ngebantu shoot video
(arigatou gozaimasu sudah mau direpotkan J ). Bahkan
keluarga pun baru tau ketika sudah pengumuman lolos.. Satu lagi kendalanya adalah
tahap seleksi yang selalu berbarengan dengan ujian bagian koas L
Nothing to Lose
Setelah semua tahap dilalui,
sisanya biar Allah yang menentukan sambil berdoa semoga perjalanan ke Jepang menjadi
salah satu rezeki saya tahun ini. Alhamdulillah Allah mengabulkannya dengan
cara-Nya.
Lolos tahap seleksi bukan
serta merta finalnya. Karena, agenda diselenggarakan tanggal 16-20 September
dan saya menerima pengumuman tanggal 28 Agustus. Sebagai peserta yang lolos di chapter terakhir, dan sendirian pula, semuanya
harus dipersiapkan sendiri dalam waktu yang mepet termasuk paspor dan visa yang
menjadi tanggungjawab peserta.
Kenekatan yang sempat terjadi waktu itu adalah saat
harus membuat e-passport di Jakarta Utara, lalu mengurus visa waiver Jepang
yang memakan waktu yang tidak singkat, dan dana yang lumayan. Tapi yah setidaknya
berusaha dulu sampai batas limitnya, kalau Allah belum mengizinkan berangkat
mungkin ada hikmah dibaliknya.. Selanjutnya tinggal tawakkal saja.. Komunikasi masih terus lanjut dengan peserta
lain juga panitia penyelenggara..
H-3 keberangkatan akhirnya semua baru fiks. Total
ada 10 delegasi final yang akan berangkat. Alhamdulillah..
Karena bumi Allah ini luas, berjalanlah diatasnya seluas ia dihamparkan. Akan banyak yang bisa dipelajari, diluar dari tempurung yang selama ini kita diami.
Kemudian dengan mengharapkan
semoga Allah meridhoi perjalanan ini, akhirnya Tokyo here I come..
1. https://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/bolehkah-wanita-bepergian-tanpa-muhrim-dan-apa-batasannya-menurut-islam.htm#.XCd5BtIzZ0s
2. https://ifsee.org/



- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact