
Ramadhan sebentar lagi selesai, dengan kata lain ini sudah masuk 10 hari terakhir.. hari-hari terakhir untuk mengumpulkan pundi-pundi amal yang berlimpah bagi yang bisa melihatnya. Semoga orang-orang beruntung itu termasuk kita. aamiin..
Tapi, sayang sekali, miris.. Ramadhan yang seharusnya penuh kesejukan dan kekhusyukan malah banjir dengan siaran televisi yang menurut saya menghilangkan “feel”nya Ramadhan.
Mengajak orang tertawa, apa salah?
Di Indonesia (mungkin di rumah saya contohnya) kalau menunggu saat berbuka dan sahur itu biasanya menonton televisi, untuk menemani kegiatan ngumpul-ngumpul keluarga dan juga sebagai hiburan. Tapi sayang, sebagian besar tayangan TV dimomen itu cuma hiburan dengan tujuan “yang penting penonton bisa ketawa” tanpa ada hikmah yang bisa diambil, mudharatnya malah banyak.
Bagus memang membuat orang ketawa dan bahagia, tapi yang dipermasalahkan adalah cara mereka membuat orang ketawa, cara yang tidak baik tentu membawa pada yang tidak baik pula.
Apakah dengan mengolok-olok orang lain itu bagus?
Apakah dengan mengumbar aib orang lain itu keren?
Ditambah kontak fisik yang kadang menyakiti.. apa itu lucu?
Lucu yang menganggap itu lucu.
Mungkin kita sudah tahu tayangan sejenis itu, dan kadang juga sempat terlena menikmatinya. Mungkin ini beberapa cuplikan lelucon yang pernah saya dengar..
“Heh lu, gigi lu kayak landasan pesawat terbang..”
“pak saya duduk di bawah.. tapi kasih saya makan ya pak.. (sambil menirukan gaya orang cacat minta2)”
Miris kan, bagaimana bisa orang cacat dijadikan olok-olokkan, mereka seperti itu juga bukan kemauan mereka. Mengolok-olok apa yang ada pada diri manusia juga berarti mengolok-olok Penciptanya.
"Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim."
(QS Al Hujurat [49] :11)
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman...”
(QS At Taubah [9] : 65-66)
Terkait dengan bercanda.. apakah dalam Islam tidak boleh? Tentu boleh, di saat-saat tertentu kita butuh senda gurau. Rasulullah pun sesungguhnya orang yang humoris. Bercanda nya pun dengan bercandaan yang cerdas.
Abu Hurairah ra pun menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad. Sanadnya Shahih)
Adapun contoh bercanda ala Rasulullah adalah ketika Seseorang sahabat mendatangi Rasulullah SAw, dan dia meminta agar Rasulullah SAW membantunya mencari unta untuk memindahkan barang-barangnya. Rasulullah berkata: “Kalau begitu kamu pindahkan barang-barangmu itu ke anak unta di seberang sana”. Sahabat bingung bagaimana mungkin seekor anak unta dapat memikul beban yang berat. “Ya Rasulullah, apakah tidak ada unta dewasa yang sekiranya sanggup memikul barang-barang ku ini?” Rasulullah menjawab, “Aku tidak bilang anak unta itu masih kecil, yang jelas dia adalah anak unta. Tidak mungkin seekor anak unta lahir dari ibu selain unta” Sahabat tersenyum dan dia-pun mengerti canda Rasulullah. (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi. Sanad sahih)
Kemudian pernah seorang perempuan tua bertanya pada Rasulullah: “Ya Utusan Allah, apakah perempuan tua seperti aku layak masuk surga?” Rasulullah menjawab: “Ya Ummi, sesungguhnya di surga tidak ada perempuan tua”. Perempuan itu menangis mengingat nasibnya Kemudian Rasulullah mengutip salah satu firman Allah di surat Al Waaqi’ah ayat 35-37 “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya”. (Riwayat At Tirmidzi, hadits hasan)
Mencampuradukkan yang benar dan yang salah dengan gaya pembenaran
Ada juga tayangan drama yang mencampuradukkan antara yang benar dan yang salah, (maaf) misalnya nih di pesantren, ada cowok didandani jadi cewek (plus jilbab), kemudian pegangan tangan dengan santriwati lainnya yang juga tahu kalau itu cowok. Dengan sedikit bumbu-bumbu Islami dan dikasih toppingnya gaya pacaran anak muda. Maaf nih, saya lebih menghormati kalau produsernya sekalian membuat drama anak muda saja, jangan dicampur aduk, mentang-mentang memanfaatkan bulan Ramadhan. -_- maaf agak emosi nulisnya. Dan habis nonton scene itu saya langsung pindah channel, gak tau apa yang terjadi berikutnya.
Tentu masih ada tayangan yang baik dan mendidik di luar sana. Namun terkait tayangan yang kita bahas tadi, kita tentu tidak menyukainya, tapi kenapa tanyangan-tayangan itu terus diproduksi?. Jawabannya karena sebagian besar masyarakat kita masih setia menontonnya, ratingnya naik seiring waktu, investor makin gencar menyumbang, dan acara terus dilanjutkan, tahun ke tahun. Jadi yang harus diperbaiki juga kesadaran masyarakat kita, jangan mudah hanyut dalam drama dan tawa yang bisa mematikan hati.
Kita mungkin sudah pernah menonton salah satu diantaranya, saya tidak menghakimi label, channel, ataupun artis yang merasa terlibat di dalamnya. Yang saya soroti cuma sikap kita dalam menyikapinya. Karena apabila kita melihat suatu kemunkaran, ada tiga pilihan kita sebagai orang yang beriman, mengingkarinya dengan tangan (perbuatan, atau kekuasaan), mengingkarinya dengan kata-kata, atau mengingkarinya dengan hati (dan ini selemah-lemahnya iman). Saya hanya mencoba mengingkarinya dengan tulisan (semoga aja bisa hampir mendekati “kata-kata”) heheh.. setidaknya naik satu tingkat daripada cuma dalam hati.
Sekian.
Wallahu a'lam bishawab.
:)
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact